SOSBUDSosBudUnggulan

Peran Sentral Tulang Dalam Kehidupan Orang Batak

Kualitas Hubungan Kita dengan Tulang: Bermutu atau Tidak?

Penulis : Drs.Thomson Hutasoit*)
Editor    : Polmas Sihombing

Di jaman dahulu, seorang bere (keponakan) sangat menghargai, hormat dan memuliakan Tulangnya.  Tulang (paman) adalah saudara laki-laki dari ibu yang melahirkan kita.  Seseorang tidak boleh sembarangan, acuh, dan sombong kepada Tulangnya.

Tulang dalam masyarakat Batak Toba diyakini sebagai mataniari binsar (awal dan pemberi keturunan), karena saudara perempuannyalah yang menjadi ibu dari anak-anak yang dilahirkannya dari hasil perkawinannya sesuai adat Batak yang dibuat oleh leluhur Batak.

Sangat besar kasih dan perhatian Tulang kepada berenya (keponakan; anak dari saudara perempuannya),  mulai dari masa dalam kandungan sampai meninggal dan setelah meninggal (saat acara mengangkat tulang-belulang berenya di kemudian hari).

Saat keponakan dalam kandungan ibunya, Tulangnya datang dan memberikan makanan (ikan mas) dan ulos tondi (ulos roh, jiwa, atau sukma).  Ulos tondi disebut juga sebagai mula gabe (awal memperoleh berkat berupa keturunan).  Ulos tondi diberikan dengan tujuan untuk meneguhkan tondi seorang Ibu yang sedang hamil pertama setelah menikah.

Dalam pemahaman orang Batak Toba “Martondi na mangolu, Marsumangot na mate” (Orang yang hidup memiliki roh, Orang yang meninggal pun memiliki roh juga), sehingga hati dan roh seorang ibu yang sedang mengandung (hamil) harus diyakinkan, agar tidak takut dan merasa terganggu saat membawakan berkat Tuhan, yaitu anak dalam kandungannya.  Itulah makna sesungguhnya dari tujuan “Mamosuri dohot Pasahat Ulos Tondi” (Tulang datang memberi makan keluarga saudara perempuannya dan memberi ulos tondi).

Setelah berenya lahir, Tulangnya segera datang dan memberikan aek ni unte (makanan berupa ikan mas dan sayuran) kepada keluarga saudara perempuannya yang baru melahirkan anak pertama. dan mamoholi (menyambut) keponakannya, sebagai pembuktian begitu besar kasih sayang Tulangnya kepada berenya.

Setelah beberapa lama pasca kelahiran berenya, orang tua (ibu dan bapak) dan/atau kakek/neneknya membawa anak/cucunya ke rumah Tulangnya.  Saat itulah, Tulangnya memotong rambut berenya, mengelus ubun-ubunya dengan maksud agar berenya terhindar dari penyakit dan kecelakaan.  Dan pada saat itu pula, Tulangnya memberikan ulos parompa (kain gendong) kepada berenya.

Masa Dewasa Bere (Keponakan)

Setelah dewasa, berenya dibawa kedua orang tuanya menemui dan memberikan makan Tulangnya dan sekaligus minta ijin untuk menikah.

Saat berenya datang dan memberi makan, serta mohon ijin menikah kepada Tulangnya.  Dan apabila saat itu ada putri Tulang kandungnya atau Tulangnya bersaudara yang sudah cukup umur untuk menikah, maka Tulangnya memperkenalkanlah putrinya (paribannya) kepada berenya.  Namun, jika berenya tidak memilih menikah dengan putri Tulangnya, maka Tulangnya memberi berenya ulos (kain selendang) sebagai tanda persetujuan menikah dengan putri orang lain.  Kain tersebut disebut “Ulos Talitali Mangaririt” (kain seledang untuk melamar).

Di saat berenya menikah kepada putri orang lain, maka Tulangnya memberikan ulos (kain tenun Batak), sesuai dengan peribahasa Batak yang mengatakan “Hot pe jabui hot margulanggulang, Boru ni ise pe dialap bere i tong do boru ni tulang” (Putri siapa pun yang dinikahi berenya itu adalah putrinya juga).

Di saat berenya meninggal dalam status sarimatua (saat meninggal masih ada anak yang belum menikah), saurmatua (saat meninggal semua anak sudah menikah), maulibulung (saat meninggal semua anak sudah menikah dan memiliki keturunan, dan belum ada keturunannya yang meninggal), Tulangnya datang untuk memberikan ulos saput (kain saput)**).

Setelah berenya meninggal dan ada acara mengangkat tulang-belulangnya di kemudian hari, maka Tulangnya yang menampin (menerima) tulang belulang berenya tersebut sesaat setelah digali atau diangkat.

Melihat banyaknya tugas seorang Tulang terhadap berenya, maka sepantasnyalah seorang bere manaruh rasa hormat dan memuliakan Tulangnya selama hidupnya.

Saat ini sudah ada sebutan yang mengatakan “Tulang ni na Mate” (tulangnya orang mati), artinya setelah seseorang meninggal baru dicari siapa Tulang kandungnya atau tulangnya bersaudara, karena selama ini berenya yang meninggal tidak pernah mencari siapa dan berhubungan dengan Tulangnya.

Inilah satu satu aturan, titah, dan hukum dalam kehidupan orang Batak yang sering tidak dilaksanakan di jaman sekarang.  Umumnya, setelah berenya menikah, tulangnya tidak diperhatikan lagi, padahal tulangnya senantiasa mendoakan keponakannyaa, agar Tuhan memberkati keponakannya dan keturunannya dari generasi ke generasi.

Jika oleh karena waktu yang terbatas, maka Manulangi Tulang Paborhat Mangoli (Keponakan memberi makan Tulangnya saat hendak mau menikah), dapat dilakukan setelah acara pesta nikah, namun sebaiknya disampaikan terlebih dahulu secara lisan kepada Tulangnya sebelum keponakannya menikah.  Setelah selesai pesta nikah (adat), maka orang tua membawa anak dan menantunya berkunjung ke rumah Tulangnya dan memberi mereka makan, sekaligus memperkenalkan menantunya.

Mungkin saat ini tidak banyak yang melakukan Manulangi Tulang Paborhat Mangoli, padahal sebenarnya sangat penting dan perlu, agar berenya tidak lupa dengan Tulangnya. Dan tidak terjadi lagi ada status “Tulang ni na mate” (tulangnya orang meninggal), sebagai akibat tidak dikenal dan diketahui seseorang siapa Tulangnya.

Horas jala gabe. Gabe ma jala horas.

**) Tentang hal ini ada perbedaan antar suatu daerah. Di daerah Toba yang memberikan ulos saput dan ulos tujung atau tujung sampetua adalah hulahulanya (bride giver), sedangkan di daerah Silindung, Humbang dan Samosir tidak demikian atau sebagaimana dijelaskan di atas.

*). Penasehat Punguan Borsak Bimbinan Hutasoit, Boru, Bere Kota Medan Sekitarnya 2020-2024.
Foto: Koleksi Pribadi Editor

Refleksi: 

Jika kualitas hubungan kita dengan Tulang kita belum baik atau belum bermutu, saatnya untuk diperbaiki dan dirajut kembali.  Dan apabila Tulang kita sudah tiada, maka dapat kita lakukan kepada Tulang kita yang bersaudara atau keturunannya.  Lebih baik terlambat, daripada tidak.

Demikian pula kita sebagai Tulang, kiranya kita memberi perhatian dan pembinaan kepada bere (keponakan), semasa hidup kita.

Rekomendasi Berita