Berita UtamaSOSBUDSosBud

Mengenal Ulos, Kain Tenun Khas Suku Batak yang Penuh Makna

TanoBatakNews, SosBud – Kain Ulos dikenal sebagai kain khas dari suku di Sumatera Utara yakni Batak. Kain ini kerap digunakan pada upacara adat.

Pada awalnya kain ulos digunakan sebagai pakaian sehari-hari masyarakat Batak. Selain dipakai untuk pengganti baju maupun sarung, ulos juga dipakai sebagai penutup kepala, hingga selendang.

Dalam booklet bertajuk “Mengenal Ulos” oleh Titit Lesatri, S.Si disebutkan bahwa bagi masyarakat Batak, ulos merupakan benda yang mempunyai kekuatan dan kedudukan tinggi. Oleh karena itu, terdapat banyak pantangan dan larangan yang tidak boleh diabaikan.

Misalnya, panjang ulos haruslah mengikuti aturan tertentu, jika aturan tersebut tidak dipakai maka bisa saja akan berakibat maut pada ‘tondi’ atau roh si penerima ulos. Sebaliknya, apabila ulos dibuat sesuai dengan aturan dengan ukuran dan pola tertentu, maka ulos dapat dijadikan sebagai pembimbing dalam kehidupan.

Ulos yang dipakai oleh laki-laki bagian atasnya disebut dengan hande-hande. Sedangkan bagian dbawah disebut dengan singkot. Ulos sebagai penutup kepala disebut tali-tali, bulang-bulang, atau detar.

Pada perempuan bagian bawah ulos disebut haen, yang dipakai hingga batas dada. Hoba-hoba merupakan sebutan untuk penutup punggung. Ulos yang dipakai sebagai selendang disebut ampe-ampe. Ulos untuk penutup kepala disebut saong. Ulos yang digunakan perempuan untuk menggendong anaknya disebut dengan parompa.

Di setiap ujung pangkal kain ulos, terdapat benang yang dipintal disebut dengan rambu. Jumlah rambu bisa terdiri dari lima atau sepuluh, atau tergantung kepada besar benangnya. Antara badan ulos dan rambu akan dibuat sirat (corak), yang berfungsi untuk menyatukan ulos itu sendiri agar benangnya tidak lepas, sekaligus sebagai hiasan untuk memberikan kesan indah pada ulos.

Ulos mempunyai fungsi simbolik sebagai busana khusus untuk upacara, kegiatan atau ritual dalam adat istiadat kehidupan masyarakat Batak. Namun, belakangan ini ulos juga bernilai ekonomis sebagai mata pencaharian, karena macam-macam ulos saat ini sudah banyak dijual di pasar-pasar.

Ulos memiliki berbagai jenis, ukuran, cara pemakaian, dan tujuan penggunaanya. Ulos yang terbuat dari bahan benang, biasanya dikerjakan dengan alat tenun tradisional. Setiap penggunaannya, ulos selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Misalnya pakaian (ulos) dalam upacara suka, tidak sama dengan ulos dalam upacara duka.

Makna pemberian ulos kepada orag lain di luar suku Batak, adalah sebagai sebuah benda yang melambangkan ikatan kasih sayang maupun penghormatan.

Hal itu tercantum dalam filsafat Batak yang berbunyi ‘Ijok pengihot ni hodong. Ulos penghit ni holong”, artinya ijuk pengikat palapa pada batangnya, dan ulos pengikat kasih sayang di antara sesama.

Contohnya pada pemberian ulos dilakukan dengan cara membentangkan ulos ke pundak, sehingga membungkus tubuh boru (sebutan bagi perempuan). Pemberian ulos merupakan suatu berkat dan perlindungan yang diberikan sahala hula-hula (mertua), kepada roh boru agar tetap berada dalam keadaan hangat dan nyaman.

Setiap kain ulos, mempunyai makna tersendiri dan berhubungan dengan hal atau benda tertentu. Semakin mahal nilai ulos yang diberikan, maka semakin besar pula kebahagiaan yang akan dinikmati.

1 2Laman berikutnya

Rekomendasi Berita