EKONOMI & BISNISInternasionalOpini

Kemelut Perang Rusia-Ukraina Telah Mengganggu Stabilitas Ekonomi Dunia

OPINI

Dunia memang tidak sedang baik-baik saja. Saat Covid-19 belum usai,  mencuatnya perang Rusia- Ukraina, kembali menggerakkan awan hitam bagi pemulihan ekonomi. Awan hitam semakin pekat tatkala dunia bayar mahal atas lawatan Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi ke Taiwan 2-3 Agustus lalu, dikhawatirkan bereskalasi,  meninggalkan bara yang bisa memantik konflik terbuka di Asia Pasifik. Kemelut perang perang Rusia-Ukraina,  membuat kita seperti terlempar ke dalam hutan belantara.Semakin jauh berjalan ke dalam hutan, semakin besar peluang tersesat dan berperilaku liar.

Dalam kaitan ini, setidaknya dunia sedang mengalami tiga bentuk ancaman serius yang bisa memberikan efek domino sangat besar yaitu, resiko geopolitik, resiko kenaikan harga pangan,  dan resiko kenaikan harga energi. Resiko geopolitik sebagai akibat perang Rusia-Ukraina yang mempengaruhi rantai pasokan bahan baku kegiatan produksi. Dan, diperparah dengan semakin meningkatnya ketegangan politik China-Taiwan.

Perang Rusia-Ukraina menyebabkan kehancuran kota, fasilitas publik, kesehatan dan kematian ribuan warga sipil, diantaranya diduga sebagai kejahatan perang dan pelanggaran HAM. Kemelut perang bersepuh ekonomi. Agenda strategis sekaligus praktis, sanksi pun dijatuhkan”blokade ekonomi” oleh Amerika Serikat (AS) dan sekutunya  terhadap Rusia yang menggelar operasi militer tersebut. Akses ekonomi Rusia terhadap dunia diputus. Kekayaan Rusia di negara lain dibekukan. Transaksi keuangan ditutup bagi negara itu.

Selain menciptakan krisis kemanusiaan dengan jumlah pengungsi yang besar, juga menciptakan malapetaka pada ekonomi dunia. Suplai barang tak bisa lagi mengandalkan satu negara. Rantai pasok terganggu, ada ketidakpastian ekonomi, inflasi menaik karena kepentingan geopolitik. Terjadi kecemasan akibat  dampak geopolitik dan blokade ekonomi yang semuanya terbebani untuk mengatasi dampak serius yang diakibatkan perang ini.

Negara-negara di dunia memang terhubung secara ekonomi. Betapa tidak, Rusia adalah penghasil minyak bumi dan gas,  sementara Ukraina pemasok utama gandum,  minyak biji matahari,  dan pupuk. Minyak bumi dan gas merupakan salah satu komoditi berperan penting dalam keberlangsungan hidup manusia. Bahkan, hasil olahan minyak bumi dijadikan bahan kendaraan untuk memudahkan aktivitas manusia sehari-hari.

Mengutip dari laman World Population Review,  ternyata Rusia adalah penghasil minyak bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat,  dan Nomor 3-10 berturut-turut adalah Arab Saudi,  diikuti Kanada, Irak,  Cina,  Uni Emirat Arab,  Brasil,  Kuwait,  dan  Iran. Meski bukan Anggota OPEC,  Rusia memasok 10 persen kebutuhan minyak global.

Di lain pihak,  pasokan dan harga gandum dunia yang menjadi bahan baku tepung terigu penghasil mie instan dan roti memang terganggu oleh ketidakstabilan perekonomian global. Harga produksi menjadi tinggi karena biaya input melonjak. Pelaku industri terpaksa menggerus margin dan menekan profit demi menjaga laju permintaan kendati biaya input melonjak. Perang berkepanjangan akan berujung pada ancaman krisis pangan global.

Sebagaimana kita ketahui, Ukraina termasuk pemasok penting sejumlah komoditas. Kesulitan Ukraina mengekspor membuat pasokan global berupa jutaan ton biji gandum dan aneka bahan pangan lain tidak bisa keluar dari Ukraina. Hal ini karena pelabuhan-pelabuhan Ukraina di Laut Azov dan Laut Hitam tidak bisa digunakan sejak invasi Rusia tersebut.

Kendala mengakses bahan baku berkualitas dengan harga terjangkau itu utamanya dirasakan pelaku industri makanan dan minuman. Harga bahan baku yang sudah tinggi akibat rantai pasok dan ketegangan geopolitik perang Rusia-Ukraina kian meroket dengan maraknya larangan ekspor-impor komoditas pangan yang dikeluarkan beberapa negara. Selain ancaman kerawanan pangan akibat perang,  terdapat isu ribuan orang pengungsi terpisah dari keluarganya menghadirkan penderitaan dari sisi psikologi dan kemanusiaan,  sesungguhnya membawa  dampak kesia-siaan dalam jangka panjang.

Dampak buruk Perang Rusia- Ukraina dirasakan seluruh negara di dunia. Sanksi ekonomi yang dijatuhkan Barat ke Rusia dan sebaliknya balasan Rusia terhadap Barat telah menggangu Stabilitas Ekonomi Dunia. Ancaman kerawanan pangan dan kenaikan harga energi telah memakan banyak korban diantaranya Sri Lanka,  Pakistan,  Ekuador,  Panama dan Afrika Selatan. Inilah realitas tatanan dunia saat ini.

Kerawanan Pangan

Perang Rusia-Ukraina yang terus berlanjut berisiko merusak rantai pasok  dan memperburuk kerawanan pangan global. Ditengah ketidakpastian ekonomi global kesadaran untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor dan menguatkan industri hulu hingga hilir kembali mengemuka. Imbauan agar pelaku industri memanfaatkan bahan lokal khususnya di sektor makanan dan minuman.

Salah satunya,  ajakan agar pemerintah bersiap mengembangkan industri sorgum untuk menyubstitusi bahan baku gandum yang selama ini bergantung dari impor. Produksi sorgum agar didongkrak berskala besar lewat pembukaan ratusan ribu hektar lahan budidaya untuk memperbesar skala dan kapasitas produksi guna mengurangi ketergantungan industri pengolahan dalam negeri terhadap bahan baku hasil impor.

Program pemulihan ekonomi dengan mendorong penggunaan produk dalam negeri dan substitusi impor perlu terus dioptimalkan. Begitu pula diversifikasi pangan seperti sorgum, sukun, sagu, jagung dan pisang menjadi pilihan tepat untuk memenuhi kebutuhan pangan sekaligus bisa menjadi sumber penghasilan baru dan diharapkan dapat meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat. Peningkatan produksi sangat penting untuk menjaga pasokan dan harga pangan di tengah tekanan inflasi.

Kenaikan Harga Energi

Ketegangan politik, spekulasi meningkatnya permintaan serta kekhawatiran terhambatnya pasokan minyak mentah dunia dan gas dunia terdorong naik/meningkat. Pasalnya, lebih dari 80 % sumber energi dunia didapat dari bahan bakar fosil. Rusia memiliki minyak,  gas,  dan batubara. Upaya Barat dan sekutunya di Eropa yang tergabung dalam Group of Seven (G-7) untuk membatasi harga dan minyak Rusia di pasar internasional kontraproduktif dan melambungkan harga. Rencana menghentikan ekspor minyak Rusia itu antipasar dan berisiko dan penyebab kenaikan harga minyak dan gas dunia. Berbagai pihak menaksir harga minyak akan menembus 200 dollar AS per-barel jika minyak Rusia terus dilarang masuk pasar.

Rusia pun membalas sanksi Eropa lewat aliran gas. BUMN Gas Rusia, Gazprom,  menghentikan pasokan gas melalui pipa dan jaringan NordStream 1 yang membentang di Ukraina. Penghentian pasokan gas ini terjadi kala Eropa masih harus mengisi cadangan gas menjelang musim dingin. Eropa butuh banyak gas,  minyak,  dan batubara terutama untuk mengoperasikan musim pemanas selama musim dingin. Suhu di musim dingin bisa anjlok beberapa derajat dibawah nol sehingga Eropa sangat butuh mesin penghangat.

Sejak perang Rusia-Ukraina meletus 24 Februari 2022, pasar cemas pada kemungkinan pasokan energi Rusia berkurang. AS dan sekutunya di Eropa sepakat menghentikan penggunaan NordSteam 2,  pipa alternatif untuk mengalirkan gas Rusia ke Eropa. Kini,  gas Rusia hanya dialurkan melalui NordStream 1 yaitu jaringan yang membentang di Ukraina. Rusia sudah bolak-balik mengurangi,  bahkan menghentikan pasokan lewat kedua jaringan itu.

Penyesuaian Harga BBM

Situasi global saat ini  memang memberi tekanan ekonomi ke seluruh negara,  termasuk Indonesia. Kenaikan harga dan kebutuhan sehari-hari menjadikan pemerintah menghadapi pilihan yang tidak mudah. Polemik subsidi BBM mencuat menyusul potensi membengkaknya biaya subsidi BBM di APBN di tengah naiknya inflasi dunia karena disrupsi rantai pasok dan perang.

Mengurangi subsidi BBM secara bertahap dan mengalokasikan anggaran ke sektor yang produktif adalah jalan terbaik yang bisa diambil negara dalam mengelola stabilitas fiskal. Selain gejolak harga minyak dunia, pemberian subsidi BBM yang tidak tepat sasaran menjadi pertimbangan pemerintah pada tanggal 3 Agustus 2022 untuk menyesuaikan harga tiga jenis BBM, yaitu Pertamax, Pertalite, dan Solar.

Bisa dipastikan kenaikan harga BBM itu akan berdampak pada biaya hidup dan kenaikan biaya di berbagai sektor,  termasuk sektor  barang dan jasa, pada kenaikan harga bahan pokok dan transportasi. Karena itu,  negara harus hadir memberikan perlindungan efektif. Ini yang melatar-belakangi keputusan Pemerintah mengalihkan sebagian subsidi BBM untuk membantu masyarakat kurang mampu melalui tiga  bantalan sosial dengan mengalokasikan anggaran Rp 24,17trilliun.

Untuk bantuan langsung tunai ( BLT) Rp 12,4 trilliun,  bansos upah Rp 9,6 trilliun. Kemudian,  subsidi transportasi angkutan umum,  bantuan ojek on-line,  dan nelayan senilai Rp 2,17 trilliun. Hal ini untuk membuat Indonesia menjauh dari ancaman resesi bahkan ancaman stagflasi yang sedang ditakutkan banyak negara. Di sisi lain memperkuat daya lenting masyarakat terlebih khusus ke kelompok terbawah, yakni kalangan yang rentan secara ekonomi.

Untuk meredam lonjakan inflasi di dalam negeri,  pemerintah perlu membenahi sistem produksi dan distribusi pangan. Pengawasan yang kuat juga diperlukan guna mencegah kehadiran spekulan yang turut menjadi penyebab lonjakan harga pangan di pasaran. Dengan sistem yang tangguh, ketahanan pangan nasional diharapkan tidak mudah terguncang oleh kenaikan harga pangan dan komoditas energi.

Bahkan, lonjakan harga pangan dan kenaikan harga energi membawa anugerah tersembunyi, dengan adanya diversifikasi pangan dan lebih serius dalam memanfaatkan sumber-sumber energi terbarukan. Sebab,  dari sisi pasokan,  potensi sumber-sumber energi terbarukan Indonesia seperti biomasa, biogas, matahari/ surya,  dan angin sangat berlimpah. (Jakarta,  11 September 2022).

*) Penulis adalah alumni FEB UKI/ Dosen Honorer FEB UKI (Penulis buku “Keceriaan Masa Pensiun”)

 Editor: Danny PHS

Rekomendasi Berita